Awal Mula Berdiri
Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo merupakan masjid agung bersejarah yang terletak strategis persis di kawasan barat depan alun-alun kota Purworejo, Jawa Tengah. Tokoh utama di balik pendirian bangunan suci ini adalah K.H.R. Ahmad Baidhowi, yang bertindak sebagai pendiri sekaligus pewakif kompleks masjid beserta area Makam Belakang Masjid Agung.
Pembangunan istimewa ini diinisiasi langsung atas dasar titah perintah dari Bupati pertama kala itu, yaitu R.A.A Tjokronegoro I. Proses pengerjaan konstruksi masjid dirancang berjalan simultan bersamaan dengan momentum berdirinya cikal bakal Kabupaten Purworejo.
Bangunan & Arsitektur
Karya monumental ini dirancang menggunakan pakem arsitektur Jawa tradisional bernilai estetika tinggi berbentuk Tanjung Lawakan Lambang Teplok. Keunikan paling mencolok terletak pada komponen atap masjid yang dibuat bertingkat tumpang tiga, yang sarat akan manifestasi filosofi tangga spiritualitas Islam:
Secara pembagian wilayah, denah bangunan inti terbagi menjadi tiga zona sakral utama, meliputi bagian serambi, ruang shalat utama umat, serta area mihrab pengimaman. Selain keunikan arsitektur fisiknya, masjid ini juga merawat berbagai peninggalan artefak kuno yang otentik, di antaranya mimbar ukir, bangunan maksura (ruang shalat khusus bupati), tombak khotbah, dan unit bedug raksasa.
Artefak Pusaka: Bedug Pendowo
Tak hanya tersohor karena keindahan arsitektur seninya, Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo juga menyimpan sebuah mahakarya kriya spektakuler yang diakui sebagai salah satu bedug terbesar di dunia, dinamakan Bedug Pendowo. Instrumen syiar legendaris ini dibuat oleh K.H.R. Yunus Irsyad dalam rentang waktu pembuatan tahun 1834 hingga 1840 M.
Bedug raksasa ini dibuat menggunakan bahan baku istimewa, yakni memanfaatkan bagian bongkot (pangkal paling bawah) dari sebuah pohon jati raksasa purba bercabang lima yang tumbuh unik, yang dikenal masyarakat luas sebagai pohon Jati Pendowo.
Spesifikasi Geometris Fisik Bedug Pendowo:
Hingga saat ini, gema dentuman agung Bedug Pendowo secara konsisten terus dibunyikan setiap hari Jumat menjelang khotbah serta pada perayaan Hari Raya Besar Islam sebagai penanda kultural masuknya waktu shalat wajib berjamaah.